Dari Festival Animasi dan Film Pendek Jerman Ping! Pong!
Galeri Soemardja, 2 Juni 2004
Untuk ketiga kalinya, dkv itb bekerja sama dengan Goethe Institut
mengadakan Festival Animasi dan Film Pendek yang diberi tema Ping!
Pong! Selain di Bandung, festival ini juga akan `dikelilingkan' di
Jakarta (Sabtu, 5 Juni ini) dan Denpasar (6-8 Juni).
Festival film ini yang hanya diselenggarakan satu hari saja juga
menghadirkan Robin Mallick, pimpinan Festival Film Animasi dan Film
Pendek Dresden yang telah diselenggarakan sebanyak 16 kali. Dan
rangkaian film yang diputar terutama adalah karya-karya pemenang
festival film tersebut selain film-film animasi bersejarah koleksi
Institut Jerman untuk Film Animasi (DIAF) serta karya terbaik
mahasiswa Sekolah Tinggi Film dan TV Postdam-Babelsberg, Jerman.
Untuk program di Bandung, film-film dibagi ke dalam tiga program
film Jerman ditambah satu paket film animasi karya negeri sendiri.
Tiga program film Jerman terdiri atas film animasi pilihan Studio
Film Animasi DEFA, film animasi terbaik dari Sekolah Tinggi Postdam-
Babelsberg dan film-film terbaik dari Jerman dan Austria. Film-film
ini adalah film-film berdurasi pendek, sekitar 2 – 15 menit dan tiap
program rata-rata terdiri atas lebih dari 5 rangkaian film. Untuk
karya dari negeri sendiri, ditayangkan film animasi (sangat) pendek
karya studi mahasiswa dkv-itb pada kuliah Animasi I dari Angkatan
2000 dan 2001.
Film Animasi Jerman
Film-film animasi pilihan DEFA menghadirkan lima buah film
animasi `klasik' dengan cerita yang terbilang sederhana yang layak
dan cocok bagi anak-anak. Film-film ini digarap dengan teknologi
analog, baik itu dengan animasi gambar tangan, siluet dan boneka.
Tema-tema yang diangkat juga cerita-cerita untuk anak-anak seperti
Beauty and The Beast (Die Schone und das Tier) serta kisah klasik
Ali dari dongeng Persia.
Beauty and The Beast versi Jerman digarap dengan teknik animasi
boneka (stop motion animation) dengan bertutur ala dongeng, dimana
seluruh cerita dituturkan melalui seorang narator yang kerap
mengubah nada dan intonasi suara seiring dengan dialog antar
karakternya. Kostum dan setting-nya mengacu pada budaya Jerman,
dengan gesture yang sangat kuat dalam membantu membangun cerita.
Banyak detil-detil kecil yang digarap dengan baik dan terkadang
dirasakan tidak penting, tetapi secara keseluruhan menjadi penting
bagi keseluruhan film. Sedangkan Ali und der Hexenmeister, karena
diambil dari dongeng Persia, digarap dengan latar dan visualisasi
yang sangat Persia, mengambil ide dari ilustrasi miniatur Persia
yang tampil dengan gambar yang datar dan penuh dengan ornamen Timur
Tengah. Animasi karakternya mengambil bentuk animasi siluet, dan
tetap mengusung ornamen Persia secara utuh. Film ini menjadi
menarik karena `peminjaman' unsur visual Persia yang sangat kuat dan
dilakukan dengan sangat serius dalam membangun keseluruhan tema
cerita. Cara bertuturnya juga dilakukan dengan cara mendongeng
melalui narator.
Film Der fallende Schatten merupakan film animasi boneka yang
diproduksi oleh Studio Sojusmultfilm, Moskow. Film yang sarat pesan
moral dan simbol-simbol ini dibentuk dengan animasi boneka dengan
editing laksana film live action (multi layer, efek cahaya dan
sebagainya). Karakterisasi dibangun dengan desain karakter dan
gesture yang kuat, karena tidak banyak dialog yang terjadi. Setting-
nya mengambil era Yunani-Romawi dengan permainan sudut pandang
kamera yang tidak hanya bermain dengan sudut pandang normal tetapi
juga high dan low angle yang dilakukan dengan efektif.
Film Die Losung segera mengingatkan kita pada film pendek karya
Studio Pixar yang menang Oscar untuk kategori film animasi pendek
terbaik: The Birds. Pesan moral bahwa selalu ada pihak
yang `nyeleneh' dan ingin semaunya sendiri ini dituturkan dengan
sangat cerdas dan tanpa kata-kata (memang terjadi dialog, tetapi
lebih diungkapkan dengan ucapan tidak bermakna dan `informasi'
dibangun melalui intonasi suara). Bahkan saat credit title
sekalipun masih ada kejutan yang ditampilkan di layar.
Untuk program Best of Sekolah Tinggi Film dan Televisi Postdam-
Babelsberg, presentasi dibagi ke dalam teknik animasinya. Dimulai
dengan program animasi gambar tangan yang menampilkan Gack Gack yang
humoris satir dan lebih baik disaksikan dengan kepala `dingin'
karena unsur satir-nya yang kuat serta beberapa adegan `kekejaman'.
Film ini juga sarat dengan kejutan-kejutan visual dan beberapa
adegannya seakan memaksa kita untuk menebak apa yang akan terjadi,
dan kemudian justru `mengabulkan' tebakan tersebut.
Lazy Sunday Afternoon banyak memainkan visual dan digarap dengan
gambar tangan yang `kasar', seperti animasi-animasi karya Bill
Plympton. Tampil sangat `sederhana' dari sisi visual (karena hanya
hitam putih), tetapi berlebihan dan cerdas dalam gerakan animasi dan
ide ceritanya. Gesture, tempo (terutama tempo slow motion) dan
permainan sudut pandang `kamera' juga memegang peran penting dalam
menuturkan cerita. Sedangkan Pigeon Affaire digarap dengan animasi
2D penuh dan tema yang tergolong dewasa, mengingat sang tokoh utama
terobsesi pada pengeras suara stasiun yang memperdengarkan suara
announcer gadis seksi. Simbolisasi dan gesture juga ditampilkan
secara penuh dalam membangun cerita.
Teknik animasi digital menghadirkan dua film: Bsss dan Eien Klarer
Fall. Bsss bahkan sangat sederhana dalam cerita, bagaimana seorang
lalat berusaha keras untuk bisa berdiri terbalik bertumpu dengan
sulurnya, mengikuti gambar gajah yang berdiri dengan belalainya pada
sebuah halaman buku cerita. Usahanya ini akhirnya berhasil
secara `mengejut'kan. Eien Klarer Fall meski tampil dengan
lingkungan 3D yang sangat kompleks, memiliki cerita yang juga
sederhana: bagaimana satu hal kecil dapat merambat menjadi hal yang
luar biasa (tipping point).
Sesi animasi boneka juga menghadirkan dua film yang dua-duanya
tergolong berat secara tema dan cerita serta dapat menghadirkan
interpretasi sendiri-sendiri, karena ditampilkan tanpa kata-kata.
Grobenwahn lebih `mudah' ditangkap karena ceritanya yang langsung:
usaha keras seorang gadis yang berusaha menarik perhatian seorang
pemuda yang ternyata sangat mengagumi dirinya sendiri. Sedangkan
Cherchez la Femme cukup mengerutkan kening karena penuh dengan
bahasa simbolik dan kuat budaya Jerman-nya.
Untuk kategori animasi eksperimental menjadi menarik karena dari dua
film yang ditampilkan di sini, satu film bereksperimen dari sisi
cerita sedangkan yang satu lagi dari teknik penggarapannya. Tauro
bertutur bagaikan sebuah lingkaran tak berujung tentang hubungan
pemburu (manusia) dan yang diburu (sapi) yang dilakukan dari zaman
ke zaman dan kembali ke titik awal dengan (lagi-lagi) sebuah
kejutan. Perpindahan antar scene dilakukan dengan halus seakan-akan
seluruh film dibuat dengan teknik one take shot (satu shot yang
diambil tanpa berhenti/cut untuk adegan yang sangat panjang). Late
at Night bereksplorasi dengan teknik, melalui animasi yang dilukis
di atas alumnium, seperti yang dilakukan Alexander Petrov melalui
animasi "The Old Man and The Sea" yang menggunakan medium lukisan di
atas tiga lapis kaca.
Program kedua ditutup dengan tiga film dari penghargaan terbaik
tahun2004: King of Fools, Feldversuche dan Lucia. King of Fools
digarap dengan animasi 2D ini bercerita tentang usaha seekor katak
dalam menarik perhatian kijang betina yang super seksi, dengan
bermain dengan transformasi dan gesture yang sesuai dengan setiap
bentuk transformasinya. Kembali kejutan menanti pada saat credit
title-nya. Film Lucia memiliki tema yang serius, tentang seorang
gadis kecil yang sakit karena tumor otak dan digarap melalui animasi
3D komputer. Penonton diajak untuk bisa merasakan `kondisi dan
sakit'nya Lucia dengan sesekali berada dalam sudut pandang Lucia itu
sendiri (subjective shot). Ketidakberdayaan, putus harapan serta
harapan yang kemudian muncul ditampilkan secara manis.
Film terakhir untuk program kedua adalah Feldversuche, yang bertutur
tentang seekor kelinci kecil yang dengan rajin merawat sebuah wortel
sehingga tumbuh besar, lebih besar dari badan sang kelinci itu
sendiri. Dan saat ia sedang bekerja keras untuk bisa mencabut
wortel tersebut, sesuatu telah berada dibelakangnya. Feldversuche
digarap secara animasi clay dengan tone warna yang monokrom. Dan
seperti dua film sebelumnya, film ini juga digarap tanpa narasi
dengan cerita dituturkan bertumpu pada gesture dan peralihan adegan.
Program terakhir diisi oleh Best Of Jerman dan Austria dengan 6 film
animasi dan film pendek. Der Erlkonig memvisualkan sajak Der
Erlkonig karya Goethe dengan simbolisasi Jerman yang sangat kuat.
Dengan gaya visualisasi yang distilasi dan ornamentik (meskipun
tidak serumit seperti film Ali und der Hexenmeister), berkisah
tentang seorang ayah yang berusaha mempertahankan kehidupan
anaknya. Das Schloss (The Castle) tampil dengan animasi boneka
dengan nuansa gelap dan misterius, saat seorang pemuda terpaksa
tinggal di sebuah kastil pada sebuah desa yang telah ditinggalkan
penduduknya. Nuansa misteri yang dibangun sejak awal memang
memancing perhatian kita untuk menduga-duga apa yang terjadi
kemudian.
Die Eisbderin akan mengingatkan kita pada kisah Gadis Penjual Korek
Api, meski dituturkan dengan jalinan cerita yang berbeda. Seorang
wanita tuna wisma berkeliling dari satu tempat sampah ke tempat
sampah lainnya dan menemukan sepasang sepatu ski yang kemudian
membawanya ke satu pengalaman dan dunia yang ajaib. Penonton
sendiri dibiarkan memutuskan sendiri apa yang terjadi pada akhir
film.
Film Yo Lo Vi (I saw It) berkisah tentang sejarah yang terkait
dengan karya Goya. Film dengan durasi cukup panjang ini
menggabungkan beragam teknik animasi, rotoscoping, kolase, komputer
grafik, fotografi, animasi tangan dan cukup membuat kita berpikir
keras untuk menangkap cerita yang ingin disampaikannya. Tak jarang,
dalam sebuah frame animasi, terdapat frame animasi lain: animasi
dalam animasi. Sebuah eksplorasi lain dalam teknik animasi.
Film Der Moderne Zyklop (The Modern Cyclop) bercerita tentang sebuah
pulau yang dihuni oleh Cyclop (raksasa bermata satu) yang mendapat
kunjungan dari serombongan turis Jerman yang ingin tahu. Kunjungan
tadi berakhir dengan kejutan-kejutan, terutama bagi sepasang turis
yang kemudian mengarungi jalan hidup yang berbeda karena
keingintahuannya itu. Film ini merupakan film animasi boneka.
Film terakhir adalah Fast Film yang sesuai dengan namanya memang
bertutur dengan cepat dan dipenuhi kejutan visual. Film ini
bercerita tentang seorang detektif yang memburu dan menyelamatkan
seorang gadis dari kelompok jahat. Sebuah cerita `standar' yang
dituturkan dengan cara yang sama sekali tidak standar. Untuk
bercerita, film ini menggabungkan aneka ragam film yang dikolasekan
sehingga mampu mengantarkan cerita utamanya. Potongan-potongan film
diambil dari film-film yang dikenal luas, terutama film-film 007
dengan aktor Sean Connery. Seperti yang diungkapkan dalam katalog
festival: "Fast Film ialah pengejaran melalui pemburuan teknik
perfilman" dan ungkapan ini dapat diterjemahkan pula secara harfiah.
Belajar dari Film Animasi Jerman
Menarik rasanya tiap kali melihat film-film dari negara-negara lain,
karena selalu ada hal baru yang bisa ditangkap apalagi film-film
yang ditayangkan kali ini benar-benar baru karena belum pernah
ditayangkan di sini. Selain itu, karena memiliki rentang waktu
produksi yang cukup panjang (film animasi pilihan DEFA merupakan
koleksi bersejarah yang dibuat sekitar tahun 1977-1988 sedangkan
film terbaik sekolah Postdam-Babelsberg adalah produksi 2004) maka
kita juga bisa belajar tentang `perjalanan' film animasi Jerman,
baik dari sisi teknis, konsep dan jalan cerita. Banyak `kejutan'
yang dihadirkan melalui film-film tersebut karena beberapa film
meskipun menggunakan teknik yang sudah dikenal, tetapi mampu
mengaplikasikannya dengan cara yang `berbeda' dan mendapatkan
applause yang meriah dari hadirin.
Film dibangun terutama dengan bahasa visual: apa yang ditampilkan
dan ditangkap oleh mata. Karena itu, berhasil-tidaknya tuturan
sebuah film dapat dilihat dari reaksi penontonnya. Terlebih jika
penontonnya adalah orang `asing' yang tidak memahami bahasa lisan
dan tulisan yang digunakan film tersebut.
Dalam festival ini terdapat beberapa film yang tampil dalam bahasa
Jerman tanpa teks, bahkan mayoritas tampil tanpa narasi sama sekali,
dan cerita dibangun bertumpu pada unsur visual media AV. Meminjam
istilah Pak Primasi tentang tata ungkap luar (peralihan antar
scene/sekuen) dan tata ungkap dalam (apa yang ditampilkan
dalam `layar' dalam setiap adegan seperti komposisi, gesture,
karakterisasi), itu pula yang menjadi unsur utama dari film-film
animasi Jerman ini: mampu berkomunikasi dengan khalayak `asing'
yang belum tentu paham bahasa dan budaya Jerman.
Unsur gerak gesture hingga detil kecil yang seakan tidak penting,
pemilihan dan pengaturan komposisi gambar dan sudut pandang kamera
sangat terasa dalam membentuk karakter tokoh dan mengalirkan
komunikasi bagi penontonnya. Dalam beberapa film, permainan-
permainan seperti ini sangat membantu memahami cerita, bahkan kadang
kita seakan mampu membaca tanda-tanda visual tadi untuk menduga
adegan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak jarang pula permainan-
permainan ini menimbullkan sensasi sendiri yang rata-rata mengundang
gelak tawa: sebuah tanda bahwa unsur humor yang biasanya sarat
dengan muatan lokal dapat tersampaikan pada penonton dari `lokal'
yang lain. Atau juga bisa artikan sebagai unsur humor yang telah go
internasional karena mampu ditangkap masyarakat yang lebih luas.
Pengembangan teknik yang dilakukan juga tergolong luar biasa.
Selain teknik yang secara umum dikenal dalam animasi seperti animasi
klasik (2D), animasi objek (3D dengan claymation, boneka, dsb),
serta animasi komputer, eksplorasi juga dilakukan dengan memadukan
teknik-teknik tadi untuk mencapai suatu teknik baru dalam
menyampaikan ide dan komunikasinya. Juga eksplorasi medium itu
sendiri, seperti yang tampak dalam film Late at Night, yang
menerapkan teknik animasi dengan lukisan. Atau Fast Film yang
justru bermain dengan teknis perfilman itu sendiri untuk membangun
cerita.
Hal penting lainnya adalah disadari atau tidak, setiap karya akan
mengandung muatan lokalnya masing-masing, tak peduli dengan cara dan
teknik apa karya itu ditampilkan. Dalam film-film yang ditampilkan
ini, tetap terasa adanya suatu benang merah yang merujuk pada
unsur `lokal' Jerman. Entah itu dari sisi visual, cara bertutur dan
berkomunikasi hingga content/isi ceritanya. Bahkan beberapa film
sangat sarat dengan unsur `lokal' ini, yang membutuhkan interpretasi
dan pemahaman yang lebih tentang budaya Jerman untuk bisa
memahaminya secara lebih nyaman.
Mbak Lanny dari Goethe Institut dalam satu kesempatan pernah
mengatakan, kadang dibutuhkan kesabaran untuk bisa memahami film,
terutama film asing dengan kultur yang berbeda. Sabar dalam arti
bertahan untuk bisa menyaksikan sebuah film yang sangat kompleks
sekalipun dari awal hingga akhir. Dengan melihat sesuatu dari awal
sampai akhir akan membuahkan sebuah wawasan dan pengetahuan baru,
karena kita bisa `terpaksa' belajar memahami sesuatu dengan
melihatnya secara menyeluruh, tidak secara parsial saja. Dan pasti
ada hal baru yang bisa kita dapatkan dari apa yang kita tonton,
apapun itu.
Terima kasih banyak untuk Pak Robin Mallick dan Mbak Lanny dari
Goethe Institut atas kerjasama dan kunjungan bagi festival animasi
yang menarik ini. Bagi yang belum sempat melihatnya di Bandung
kemarin, dapat `mengejar'nya di IKJ Jakarta pada hari Sabtu, 5 Juni
2004, jam 13.00 – malam. Dijamin tidak akan menyesal! Selamat menonton! :D
Hafiz Ahmad
dari milis pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com 04 Jun 2004
Untuk ketiga kalinya, dkv itb bekerja sama dengan Goethe Institut
mengadakan Festival Animasi dan Film Pendek yang diberi tema Ping!
Pong! Selain di Bandung, festival ini juga akan `dikelilingkan' di
Jakarta (Sabtu, 5 Juni ini) dan Denpasar (6-8 Juni).
Festival film ini yang hanya diselenggarakan satu hari saja juga
menghadirkan Robin Mallick, pimpinan Festival Film Animasi dan Film
Pendek Dresden yang telah diselenggarakan sebanyak 16 kali. Dan
rangkaian film yang diputar terutama adalah karya-karya pemenang
festival film tersebut selain film-film animasi bersejarah koleksi
Institut Jerman untuk Film Animasi (DIAF) serta karya terbaik
mahasiswa Sekolah Tinggi Film dan TV Postdam-Babelsberg, Jerman.
Untuk program di Bandung, film-film dibagi ke dalam tiga program
film Jerman ditambah satu paket film animasi karya negeri sendiri.
Tiga program film Jerman terdiri atas film animasi pilihan Studio
Film Animasi DEFA, film animasi terbaik dari Sekolah Tinggi Postdam-
Babelsberg dan film-film terbaik dari Jerman dan Austria. Film-film
ini adalah film-film berdurasi pendek, sekitar 2 – 15 menit dan tiap
program rata-rata terdiri atas lebih dari 5 rangkaian film. Untuk
karya dari negeri sendiri, ditayangkan film animasi (sangat) pendek
karya studi mahasiswa dkv-itb pada kuliah Animasi I dari Angkatan
2000 dan 2001.
Film Animasi Jerman
Film-film animasi pilihan DEFA menghadirkan lima buah film
animasi `klasik' dengan cerita yang terbilang sederhana yang layak
dan cocok bagi anak-anak. Film-film ini digarap dengan teknologi
analog, baik itu dengan animasi gambar tangan, siluet dan boneka.
Tema-tema yang diangkat juga cerita-cerita untuk anak-anak seperti
Beauty and The Beast (Die Schone und das Tier) serta kisah klasik
Ali dari dongeng Persia.
Beauty and The Beast versi Jerman digarap dengan teknik animasi
boneka (stop motion animation) dengan bertutur ala dongeng, dimana
seluruh cerita dituturkan melalui seorang narator yang kerap
mengubah nada dan intonasi suara seiring dengan dialog antar
karakternya. Kostum dan setting-nya mengacu pada budaya Jerman,
dengan gesture yang sangat kuat dalam membantu membangun cerita.
Banyak detil-detil kecil yang digarap dengan baik dan terkadang
dirasakan tidak penting, tetapi secara keseluruhan menjadi penting
bagi keseluruhan film. Sedangkan Ali und der Hexenmeister, karena
diambil dari dongeng Persia, digarap dengan latar dan visualisasi
yang sangat Persia, mengambil ide dari ilustrasi miniatur Persia
yang tampil dengan gambar yang datar dan penuh dengan ornamen Timur
Tengah. Animasi karakternya mengambil bentuk animasi siluet, dan
tetap mengusung ornamen Persia secara utuh. Film ini menjadi
menarik karena `peminjaman' unsur visual Persia yang sangat kuat dan
dilakukan dengan sangat serius dalam membangun keseluruhan tema
cerita. Cara bertuturnya juga dilakukan dengan cara mendongeng
melalui narator.
Film Der fallende Schatten merupakan film animasi boneka yang
diproduksi oleh Studio Sojusmultfilm, Moskow. Film yang sarat pesan
moral dan simbol-simbol ini dibentuk dengan animasi boneka dengan
editing laksana film live action (multi layer, efek cahaya dan
sebagainya). Karakterisasi dibangun dengan desain karakter dan
gesture yang kuat, karena tidak banyak dialog yang terjadi. Setting-
nya mengambil era Yunani-Romawi dengan permainan sudut pandang
kamera yang tidak hanya bermain dengan sudut pandang normal tetapi
juga high dan low angle yang dilakukan dengan efektif.
Film Die Losung segera mengingatkan kita pada film pendek karya
Studio Pixar yang menang Oscar untuk kategori film animasi pendek
terbaik: The Birds. Pesan moral bahwa selalu ada pihak
yang `nyeleneh' dan ingin semaunya sendiri ini dituturkan dengan
sangat cerdas dan tanpa kata-kata (memang terjadi dialog, tetapi
lebih diungkapkan dengan ucapan tidak bermakna dan `informasi'
dibangun melalui intonasi suara). Bahkan saat credit title
sekalipun masih ada kejutan yang ditampilkan di layar.
Untuk program Best of Sekolah Tinggi Film dan Televisi Postdam-
Babelsberg, presentasi dibagi ke dalam teknik animasinya. Dimulai
dengan program animasi gambar tangan yang menampilkan Gack Gack yang
humoris satir dan lebih baik disaksikan dengan kepala `dingin'
karena unsur satir-nya yang kuat serta beberapa adegan `kekejaman'.
Film ini juga sarat dengan kejutan-kejutan visual dan beberapa
adegannya seakan memaksa kita untuk menebak apa yang akan terjadi,
dan kemudian justru `mengabulkan' tebakan tersebut.
Lazy Sunday Afternoon banyak memainkan visual dan digarap dengan
gambar tangan yang `kasar', seperti animasi-animasi karya Bill
Plympton. Tampil sangat `sederhana' dari sisi visual (karena hanya
hitam putih), tetapi berlebihan dan cerdas dalam gerakan animasi dan
ide ceritanya. Gesture, tempo (terutama tempo slow motion) dan
permainan sudut pandang `kamera' juga memegang peran penting dalam
menuturkan cerita. Sedangkan Pigeon Affaire digarap dengan animasi
2D penuh dan tema yang tergolong dewasa, mengingat sang tokoh utama
terobsesi pada pengeras suara stasiun yang memperdengarkan suara
announcer gadis seksi. Simbolisasi dan gesture juga ditampilkan
secara penuh dalam membangun cerita.
Teknik animasi digital menghadirkan dua film: Bsss dan Eien Klarer
Fall. Bsss bahkan sangat sederhana dalam cerita, bagaimana seorang
lalat berusaha keras untuk bisa berdiri terbalik bertumpu dengan
sulurnya, mengikuti gambar gajah yang berdiri dengan belalainya pada
sebuah halaman buku cerita. Usahanya ini akhirnya berhasil
secara `mengejut'kan. Eien Klarer Fall meski tampil dengan
lingkungan 3D yang sangat kompleks, memiliki cerita yang juga
sederhana: bagaimana satu hal kecil dapat merambat menjadi hal yang
luar biasa (tipping point).
Sesi animasi boneka juga menghadirkan dua film yang dua-duanya
tergolong berat secara tema dan cerita serta dapat menghadirkan
interpretasi sendiri-sendiri, karena ditampilkan tanpa kata-kata.
Grobenwahn lebih `mudah' ditangkap karena ceritanya yang langsung:
usaha keras seorang gadis yang berusaha menarik perhatian seorang
pemuda yang ternyata sangat mengagumi dirinya sendiri. Sedangkan
Cherchez la Femme cukup mengerutkan kening karena penuh dengan
bahasa simbolik dan kuat budaya Jerman-nya.
Untuk kategori animasi eksperimental menjadi menarik karena dari dua
film yang ditampilkan di sini, satu film bereksperimen dari sisi
cerita sedangkan yang satu lagi dari teknik penggarapannya. Tauro
bertutur bagaikan sebuah lingkaran tak berujung tentang hubungan
pemburu (manusia) dan yang diburu (sapi) yang dilakukan dari zaman
ke zaman dan kembali ke titik awal dengan (lagi-lagi) sebuah
kejutan. Perpindahan antar scene dilakukan dengan halus seakan-akan
seluruh film dibuat dengan teknik one take shot (satu shot yang
diambil tanpa berhenti/cut untuk adegan yang sangat panjang). Late
at Night bereksplorasi dengan teknik, melalui animasi yang dilukis
di atas alumnium, seperti yang dilakukan Alexander Petrov melalui
animasi "The Old Man and The Sea" yang menggunakan medium lukisan di
atas tiga lapis kaca.
Program kedua ditutup dengan tiga film dari penghargaan terbaik
tahun2004: King of Fools, Feldversuche dan Lucia. King of Fools
digarap dengan animasi 2D ini bercerita tentang usaha seekor katak
dalam menarik perhatian kijang betina yang super seksi, dengan
bermain dengan transformasi dan gesture yang sesuai dengan setiap
bentuk transformasinya. Kembali kejutan menanti pada saat credit
title-nya. Film Lucia memiliki tema yang serius, tentang seorang
gadis kecil yang sakit karena tumor otak dan digarap melalui animasi
3D komputer. Penonton diajak untuk bisa merasakan `kondisi dan
sakit'nya Lucia dengan sesekali berada dalam sudut pandang Lucia itu
sendiri (subjective shot). Ketidakberdayaan, putus harapan serta
harapan yang kemudian muncul ditampilkan secara manis.
Film terakhir untuk program kedua adalah Feldversuche, yang bertutur
tentang seekor kelinci kecil yang dengan rajin merawat sebuah wortel
sehingga tumbuh besar, lebih besar dari badan sang kelinci itu
sendiri. Dan saat ia sedang bekerja keras untuk bisa mencabut
wortel tersebut, sesuatu telah berada dibelakangnya. Feldversuche
digarap secara animasi clay dengan tone warna yang monokrom. Dan
seperti dua film sebelumnya, film ini juga digarap tanpa narasi
dengan cerita dituturkan bertumpu pada gesture dan peralihan adegan.
Program terakhir diisi oleh Best Of Jerman dan Austria dengan 6 film
animasi dan film pendek. Der Erlkonig memvisualkan sajak Der
Erlkonig karya Goethe dengan simbolisasi Jerman yang sangat kuat.
Dengan gaya visualisasi yang distilasi dan ornamentik (meskipun
tidak serumit seperti film Ali und der Hexenmeister), berkisah
tentang seorang ayah yang berusaha mempertahankan kehidupan
anaknya. Das Schloss (The Castle) tampil dengan animasi boneka
dengan nuansa gelap dan misterius, saat seorang pemuda terpaksa
tinggal di sebuah kastil pada sebuah desa yang telah ditinggalkan
penduduknya. Nuansa misteri yang dibangun sejak awal memang
memancing perhatian kita untuk menduga-duga apa yang terjadi
kemudian.
Die Eisbderin akan mengingatkan kita pada kisah Gadis Penjual Korek
Api, meski dituturkan dengan jalinan cerita yang berbeda. Seorang
wanita tuna wisma berkeliling dari satu tempat sampah ke tempat
sampah lainnya dan menemukan sepasang sepatu ski yang kemudian
membawanya ke satu pengalaman dan dunia yang ajaib. Penonton
sendiri dibiarkan memutuskan sendiri apa yang terjadi pada akhir
film.
Film Yo Lo Vi (I saw It) berkisah tentang sejarah yang terkait
dengan karya Goya. Film dengan durasi cukup panjang ini
menggabungkan beragam teknik animasi, rotoscoping, kolase, komputer
grafik, fotografi, animasi tangan dan cukup membuat kita berpikir
keras untuk menangkap cerita yang ingin disampaikannya. Tak jarang,
dalam sebuah frame animasi, terdapat frame animasi lain: animasi
dalam animasi. Sebuah eksplorasi lain dalam teknik animasi.
Film Der Moderne Zyklop (The Modern Cyclop) bercerita tentang sebuah
pulau yang dihuni oleh Cyclop (raksasa bermata satu) yang mendapat
kunjungan dari serombongan turis Jerman yang ingin tahu. Kunjungan
tadi berakhir dengan kejutan-kejutan, terutama bagi sepasang turis
yang kemudian mengarungi jalan hidup yang berbeda karena
keingintahuannya itu. Film ini merupakan film animasi boneka.
Film terakhir adalah Fast Film yang sesuai dengan namanya memang
bertutur dengan cepat dan dipenuhi kejutan visual. Film ini
bercerita tentang seorang detektif yang memburu dan menyelamatkan
seorang gadis dari kelompok jahat. Sebuah cerita `standar' yang
dituturkan dengan cara yang sama sekali tidak standar. Untuk
bercerita, film ini menggabungkan aneka ragam film yang dikolasekan
sehingga mampu mengantarkan cerita utamanya. Potongan-potongan film
diambil dari film-film yang dikenal luas, terutama film-film 007
dengan aktor Sean Connery. Seperti yang diungkapkan dalam katalog
festival: "Fast Film ialah pengejaran melalui pemburuan teknik
perfilman" dan ungkapan ini dapat diterjemahkan pula secara harfiah.
Belajar dari Film Animasi Jerman
Menarik rasanya tiap kali melihat film-film dari negara-negara lain,
karena selalu ada hal baru yang bisa ditangkap apalagi film-film
yang ditayangkan kali ini benar-benar baru karena belum pernah
ditayangkan di sini. Selain itu, karena memiliki rentang waktu
produksi yang cukup panjang (film animasi pilihan DEFA merupakan
koleksi bersejarah yang dibuat sekitar tahun 1977-1988 sedangkan
film terbaik sekolah Postdam-Babelsberg adalah produksi 2004) maka
kita juga bisa belajar tentang `perjalanan' film animasi Jerman,
baik dari sisi teknis, konsep dan jalan cerita. Banyak `kejutan'
yang dihadirkan melalui film-film tersebut karena beberapa film
meskipun menggunakan teknik yang sudah dikenal, tetapi mampu
mengaplikasikannya dengan cara yang `berbeda' dan mendapatkan
applause yang meriah dari hadirin.
Film dibangun terutama dengan bahasa visual: apa yang ditampilkan
dan ditangkap oleh mata. Karena itu, berhasil-tidaknya tuturan
sebuah film dapat dilihat dari reaksi penontonnya. Terlebih jika
penontonnya adalah orang `asing' yang tidak memahami bahasa lisan
dan tulisan yang digunakan film tersebut.
Dalam festival ini terdapat beberapa film yang tampil dalam bahasa
Jerman tanpa teks, bahkan mayoritas tampil tanpa narasi sama sekali,
dan cerita dibangun bertumpu pada unsur visual media AV. Meminjam
istilah Pak Primasi tentang tata ungkap luar (peralihan antar
scene/sekuen) dan tata ungkap dalam (apa yang ditampilkan
dalam `layar' dalam setiap adegan seperti komposisi, gesture,
karakterisasi), itu pula yang menjadi unsur utama dari film-film
animasi Jerman ini: mampu berkomunikasi dengan khalayak `asing'
yang belum tentu paham bahasa dan budaya Jerman.
Unsur gerak gesture hingga detil kecil yang seakan tidak penting,
pemilihan dan pengaturan komposisi gambar dan sudut pandang kamera
sangat terasa dalam membentuk karakter tokoh dan mengalirkan
komunikasi bagi penontonnya. Dalam beberapa film, permainan-
permainan seperti ini sangat membantu memahami cerita, bahkan kadang
kita seakan mampu membaca tanda-tanda visual tadi untuk menduga
adegan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak jarang pula permainan-
permainan ini menimbullkan sensasi sendiri yang rata-rata mengundang
gelak tawa: sebuah tanda bahwa unsur humor yang biasanya sarat
dengan muatan lokal dapat tersampaikan pada penonton dari `lokal'
yang lain. Atau juga bisa artikan sebagai unsur humor yang telah go
internasional karena mampu ditangkap masyarakat yang lebih luas.
Pengembangan teknik yang dilakukan juga tergolong luar biasa.
Selain teknik yang secara umum dikenal dalam animasi seperti animasi
klasik (2D), animasi objek (3D dengan claymation, boneka, dsb),
serta animasi komputer, eksplorasi juga dilakukan dengan memadukan
teknik-teknik tadi untuk mencapai suatu teknik baru dalam
menyampaikan ide dan komunikasinya. Juga eksplorasi medium itu
sendiri, seperti yang tampak dalam film Late at Night, yang
menerapkan teknik animasi dengan lukisan. Atau Fast Film yang
justru bermain dengan teknis perfilman itu sendiri untuk membangun
cerita.
Hal penting lainnya adalah disadari atau tidak, setiap karya akan
mengandung muatan lokalnya masing-masing, tak peduli dengan cara dan
teknik apa karya itu ditampilkan. Dalam film-film yang ditampilkan
ini, tetap terasa adanya suatu benang merah yang merujuk pada
unsur `lokal' Jerman. Entah itu dari sisi visual, cara bertutur dan
berkomunikasi hingga content/isi ceritanya. Bahkan beberapa film
sangat sarat dengan unsur `lokal' ini, yang membutuhkan interpretasi
dan pemahaman yang lebih tentang budaya Jerman untuk bisa
memahaminya secara lebih nyaman.
Mbak Lanny dari Goethe Institut dalam satu kesempatan pernah
mengatakan, kadang dibutuhkan kesabaran untuk bisa memahami film,
terutama film asing dengan kultur yang berbeda. Sabar dalam arti
bertahan untuk bisa menyaksikan sebuah film yang sangat kompleks
sekalipun dari awal hingga akhir. Dengan melihat sesuatu dari awal
sampai akhir akan membuahkan sebuah wawasan dan pengetahuan baru,
karena kita bisa `terpaksa' belajar memahami sesuatu dengan
melihatnya secara menyeluruh, tidak secara parsial saja. Dan pasti
ada hal baru yang bisa kita dapatkan dari apa yang kita tonton,
apapun itu.
Terima kasih banyak untuk Pak Robin Mallick dan Mbak Lanny dari
Goethe Institut atas kerjasama dan kunjungan bagi festival animasi
yang menarik ini. Bagi yang belum sempat melihatnya di Bandung
kemarin, dapat `mengejar'nya di IKJ Jakarta pada hari Sabtu, 5 Juni
2004, jam 13.00 – malam. Dijamin tidak akan menyesal! Selamat menonton! :D
Hafiz Ahmad
dari milis pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com 04 Jun 2004

1 Comments:
haloooo!!!!!!!!!!!
lam kenal ya!!!!!!!!!
posting kma kok bagus
Post a Comment
<< Home